Jam berapa sekarang?

Visitors

free counters
Membacaitubagus. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Chatting Here...

Membaca Itu Bagus

Jumat, 04 September 2015

Republic of “SELO”

by yazid  |  at  9/04/2015 03:39:00 AM

            “Eh, lu dah selese ngerjain tugas makalah yang disuruh dosen kemaren blom? Gua masih bingung nih tugasnya gimana, bisa kasi tau ga?” “ah SELO.. paling dosennya juga lupa sama nih tugas. Lagian lo kuliah serius amat kayak maen catur.”
            Begitulah kira-kira pembicaraan singkat yang sudah sangat sering kita dengar di sekitar kita bahkan diri kita sendiri sering mengucapkan kata sakti satu ini, SELO. Sebenarnya boleh saja kita tidak terlalu memikirkan suatu masalah yang biasa kita hadapi. Tapi belakangan saya perhatikan, kata SELO udah kayak jomblo, bertebaran di mana-mana. Seolah ini seperti menjadi budaya baru yang ada di Indonesia. Kata ini juga suka dipakai oleh sebagian orang untuk menunjukkan betapa masalah gausah dibuat ribet, toh nanti ada jalannya dan terus terselesaikan, kira-kira begitulah kata si jomblo tadi. Oke, mari kita telaah sedikit lebih jauh apa efek yang terjadi pada kata satu ini.
            Andaikata semua orang yang ada di Indonesia menggunakan azas SELO ini (sebenarnya udah sih), bayangkan betapa banyaknya hasil kerjaan yang mepet dan hasilnya ga maksimal. Negara ini kan kompleks tuh, masalahnya juga aneh-aneh. Masalah yang ruwet itu apa bisa diselesaiin dengan bilang, SELO lah toh nnti juga selese (selese mbahmu..). Kita pasti marah-marah gak karuan sampai gigit kabel tv di rumah kita kalau ada pejabat yang bilang gitu. Tapi coba kita perhatikan diri kita. Bukankah masa depan akumulasi dari masa lalu dan masa kini? Kalo kita perhatikan orang jepang, rasanya mungkin ga ada kata selo di kamus kehidupan mereka. Semua seolah dianggap serius. Dan hasilnya? Ya negara mereka kaya. Terkadang terlintas di benak saya, apakah kita yang ada di Indonesia ini terlalu bercanda dengan kehidupan kita? Jujur saya katakan, saya juga adalah korban dari kata ini. Hal ini seperti doktrin dari kebiasaan kita. Mindset saya pun mengalir mengikuti kebiasaan-kebiasaan ini. Maka dari sekarang, saya mencoba untuk sedikit lebih serius dalam menghadapi suatu masalah atau kerjaan. Duh sayang sekali rasanya betapa banyak potensi yang lenyap hanya gara-gara kata ini.
            Kata ini juga dipakai sebagian pelajar sebagai pembelaan dirinya sendiri untuk menunda tugas atau pekerjaan mereka. Belakangan saya berpikir, hidup bukan hanya sekedar hasil akhirnya, tapi juga proses di dalamnya. Semua orang mungkin mengamini pernyataan itu termasuk justin bieber dan tetangga saya. Mari kita ambil contoh kasus.
            Si Otong dikasih tugas seminggu. Dia terus bilang selo ketika temannya Bagong mengajaknya untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Naik pitam, si bagong berinisiatif mengerjakan tugas sendiri dengan cara mengerjakan tugas waktu demi waktu. Sementara si Otong santai bilang selo tak terasa sudah H-1 pengumpulan tugas. Dia bantai sehari semalam mengebut kerjaannya. Di hari H, tugas dikumpulkan dan nilai yang didapat oleh mereka berdua tidak berbeda jauh. Dengan santainya si Otong bilang “makanya selo ajaa.. tuh selesaikan. Sama lagi nilai kita hehehe”. Sepintas mungkin si Otong benar. Tapi tunggu dulu, si Bagong dengan mengerjakannya dengan serius dan waktu demi waktu, dia jadi lebih memahami tugas dan materinya dibandingkan si Otong. Dan ini akan menjadi modal si Bagong kedepannya. Sementara si Otong, dia hanya mengerjakan tugas karena tuntutan dan nilai. Mungkin dia mendapat nilai yang bagus. Tapi HANYA SEBATAS ITU SAJA. Dia akan terbiasa menganggap sepela segala hal yang berimbas pada masa depannya. Bisa ditarik hikmahnya yaitu “hasil” adalah yang bisa dipetik untuk sekarang, sementara “proses” untuk di masa yang akan datang.
            Dalam pemahaman agama saya, Islam, juga ditegaskan untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan, termasuk ibadah dan pekerjaan lainnya yang positif. Dalil-dalil tentang hal ini banyak sekali jika mau ditelaah. Alasan apalagi yang buat kita masih menggunakan mindset SELO ini?
            Oleh karena itu, dari sekarang kita bersama-sama bisa mengubah mindset kita tentang SELO ini. Karena untuk membangun INDONESIA menjadi NEGARA ADIDAYA, dibutuhkan orang-orang dengan kualitas “BERSUNGGUH” bukan “SELO”. Jadi kan negara ini Republic of “bersungguh-sungguh”!!

Maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Sungguh tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri sebagai bahan koreksi. Tidak ada maksud untuk menyinggung siapapunJ

0 comments:

=================================================
PLEASE COMMENT..!!!
Di comment donk artikel menarik diatas....!!^^

Suatu tulisan akan menjadi baik jika mempunyai penggerak motivasi yang berupa Kritik, Saran dan lain-lain

Find Us On Facebook

Proudly Powered by Blogger.